Entri yang Diunggulkan

Shiddiq, Amanah, Tabligh, Fathanah

Ahlak Terpuji 2 (Shiddiq, Amanah, Tablig dan Fathanah) Perilaku Rasulullah saw adalah suri teladan bagi umat manusia. Ketinggian ...

Sabtu, 03 November 2012

RUQYAH DAN ISTIGHOTSAH

 Ruqyah dan Istighasah merupakan bentuk khusus dari do'a yang dilakukan pada hal tertentu. Terutama ruqyah, kedua hal tersebut untuk saat ini telah lebih dikenal di masyarakat sebagai jalan untuk menghilangkan sesusahan, terhindar dari marabahaya bahkan untuk menghilangkan penyakit. Kedua hal tersebut, bagi orang-orang yang melaksanakannya lebih disukai daripada yang lainnya karena lebih bersifat Islami dan bersifat Nabawi. Terlepas dari itu semua, ruqyah dan istighasah mempunyai jarak yang tipis antara keimanan dan kemusyrikan, apakah karena Allah atau karena yang lainnya.     

A. RUQYAH
Mengenai ruqyah, kita perhatikan hadits berikut:

حدثني ابو الطاهر، أخبرنا ابن وهب, أخبرني معاوية بن صالح، عن عبد الرحمن بن جبير، عن أبيه، عن عوف بن مالك الاشجعي. قال: كنا نرقي فى الجاهلية. فقلنا: يا رسول الله! كيف ترى فى ذلك؟ فقال اعرضوا علىّ رقاكم لا بأس بالرقى مالم يكن فيه شرك

Telah berkata kepadaku Abu Thohir, telah mengkabarkan kepada kami Abu Wahab, telah mengkabarkanku Muawiyah bin Sholih dari Abdu Rohman bin Jabir dari Bapaknya dari Auf bin Malik Al-Isyjai'y ia berkata kami meruqyah dijaman jahiliyah maka kami bertanya kepada Rasulullah, ya Rasulullah bagaimana pandangannya di dalam hal itu? Maka Rasulullah menjawab kamu menawarkan ruqyah atas nama saya, tidak mengapa melakukan ruqyah selama padanya tidak terdapat syirik. Hr. Muslim, Shahih Muslim, II:358, No. 2200



1. Biografi Shahabat
Auf bin malik asyjaiy al-ghotofani, beliau termasuk orang-orang yang ikut menyaksikan peristiwa fathul mekah. Wafat pada tahun 73 H. diterangkan oleh penyusun kitab al-tahdzib bahwa beliau meriwayatkan hadits dari Rasulullah Saw sebanyak 67 buah hadits. Imam Bukhari dan Muslim dalam kitab shohihnya telah meriwayatkan dari beliau, enam diantaranya hadits yang infirod (menyendiri) hanya diriwayatkan oleh bukhari dan hanya diriwayatkan muslim sendiri.

2. Mufrodat
Kata Ruqyah adalah bentuk mufrad atau tunggal yang mempunyai bentuk jamaknya adalah ruqa, ruqyat, dan ruqoyat. Menurut bahasa ruqyah artinya at-ta'widz ( (التعوذّatau al-isti'adzah ((الا ستعاذة yang berarti memohon perlindungan. Sedangkan menurut istilah, ruqyah adalah:

أن يًستعانَ للحصول على امر بقوًى تَفوقُ القوَى الطبيعةَ فى زعمهم ووهمهم
Diminta pertolongan agar sampainya kepada suatu urusan dengan kekuatan yang melebihi kekuatan biasa dalam keyakinan dan sangka mereka. (Almunjid : 276)

Menurut Wawan Shafwan Shalehuddin Ruqyah berarti berlindung kepada Allah dari hal buruk yang sedang atau akan terjadi termasuk doa meminta kesembuhan dari suatu penyakit. Ruqyah dapat juga berarti jampi-jampi, mantera-mantera yang diucapkan untuk maksud di atas.
Dengan memperhatikan keterangan tersebut, Ruqyah  berarti berlindung kepada Satu dzat yang memiliki kekuatan yang lebih dari hal buruk yang sedang atau akan terjadi.
Dengan pengertian tersebut, Ruqyah tidak hanya ditujukan kepada Allah swt. tetapi ditujukan pula kepada selain Allah yang dianggap oleh yang meruqyah memiliki kekuatan yang lebih.

3. Syarah Hadits
Mengenai Ruqyah, entah mengapa pada masa sekarang lebih dikenal dan diidentikkan sebagai jalan yang ditempuh supaya terhindar dari marabahaya dan terhindar dari penyakit yang dikaitkan dengan adanya campur tangan Mahkluq Ghaib, walaupun tidak dipungkiri tidak semua melakukan Ruqyah dengan alasan seperti itu.
Keadaan tersebut ternyata telah dikenal dan biasa dilakukan sejak jaman Jahiliyyah bahkan mungkin jauh sebelum itu. Telah terbiasa dikalangan jahiliyah untuk meruqyah dalam menangkal atau mengobati sesuatu penyakit, mereka menggantungkan harapan kepada jampi-jampi itu sendiri, berlindung kepada sesuatu yang sebenarnya tidak ada, tetapi dengan tahayul dan seiring dengan munculnya khurafat-khurafat atau cerita-cerita gaib dari orang yang tidak bertanggung jawab seolah sesuatu itu merupakan makhluk gaib yang ada dan dapat memberikan perlindungan., yang pada waktu itu menyebar dikalangan masyarakat. Sebagaimana yang terjadi pada istri ibnu mas'ud  yang berkalungkan sesuatu yang diberikan nenek yahudi sebagai jampi dan jimat untuk menghilangkan  sakit mata, dengan mengatungkan harapan pada jampi dan jimat tersebut.
Jelas ruqyah seperti ini penuh dengan syirik dan dalam prakteknya senantiasa diikuti adanya tamimah. mereka berkeyakinan bahwa jin mempunyai kekuatan untuk menangkal penyakit, bahaya, dan hal-hal lain yang ingin dihindari atau disembuhkan.
Masih terjadi seorang pedagang yang ingin beruntung, menyimpan sesuatu di tempat penjualannya sebagai jimat. Petani yang ingin tanamannya subur dan tidak di ganggu oleh hama, ia menanam jimat di sudut-sudut pematang sawahnya. Orang-orang yang diangap intelek menanamkan kepala kerbau lalu memecahkan kendi yang telah diberi air dan bunga-bunga yang telah di jampi oleh orang pintar agar bangunan yang diresmikan itu kuat dan tidak mudah roboh. Menggantungkan ayat-ayat di pintu-pintu atau tempat-tempat khusus lainnya agar pengisi rumah tidak digoda syetan atau diganggu jin dan lain sebagainya yang seperti itu. Maka jelaslah perbuatan itu justru mengundang setan dan meminta bantuannya.
Di dalam islam juga dikenal istilah ruqyah yang tentu saja permohonan dan perlindungan itu ditujukan kepada Allah.   
Merujuk kepada hadits-hadits, Ruqyah dalam memohon perlindungan atau doa kesembuhan kepada Allah Swt. yang pernah dilakukan oleh Rasulullah, sahabat dan jibril diantaranya:
  1. Ruqyah untuk yang belum terjadi, sebagaimana Rasulullah Saw meruqyah kedua cucu beliau Hasan dan Husen.
أعيذ بكلمات الله التامة من كل شيطان وهامة ومن كل عين لامة، ويقول هكذا كان إبراهيم يعوذ إسحاق وإسماعيل
"Aku memperlindungkan kalian berdua pada kalimat Allah yang maha sempurna dari setiap syetan, binatang berbisa dan dari setiap mata yang jahat" dan beliau bersabda "beginilah ibrahim memperlindungkan Ishaq dan Ismail". (at-tarmidzi)

  1. Ruqyah dengan surat-surat Al-Muawwidzat dan doa-doa
كان اذا أوى إلى فراشه كل ليلة جمع كفيه ثم نفث فيهما فقرأ فيهما قل هو الله احد وقل أعوذ برب الفلق وقل أعوذ برب الناس ثم يمسح بهما ما استطاع من جسده يبدأ بهما على رأسه ووجهه وما أقبل من جسده يفعل ذلك ثلاث مرات
Nabi Saw apabila berbaring di tempat tidurnya setiap malam, beliau menggabungkan kedua tangannya dan meniup keduanya. Lalu beliau mebaca pada kedua tangannya itu "qul huwa Allah ahad, qul a'udzu bi rabbi al-falaq, dan qul a'udzu bi rabbi an-nas" kemudian mengusapkan kedua tangannya itu pada bagian tubuhnya yang terjangkau. Beliau memulainya dari kepalanya, wajahnya, dan bagian depan tubuhnya. Beliau melakukannya tiga kali. (Bukhari no. 5017)
 
  1. Ruqyah apabila singgah di sebuah rumah
من نزل منزلا فقال: أعوذ بكلمات الله التامة من شر ما خلق لم يضره شيء حتى يرتحل من منزله ذلك
Barang siapa yang singgah di suatu rumah lalu mengucapkan "A'udzu bi kalimatillah at-tammah min syarri ma khalaqa" tidak ada sesuatu pun yang akan membahayakannya sampai ia beranjak dari persingahannya tersebut (muslim no. 2708)

  1. Disengat kalajengking lalu tidak dapat tidur semalaman
أما إنك لو قلت حين أمسيت : أعوذ بكلمات الله التامة من شر ما خلق لم تحضرك
Adapun kamu, sesungguhnya jika kamu mengucapkan di waktu sore "A'udzu bi kalimatillah at-tammah min syarri ma khalaqa" maka kalajengking itu tidak akan memudlaratkan kamu. (Muslim no. 2708)

  1. Pada malam hari membaca dua ayat terakhir dari surat Al-Baqarah.(Shahih al-Bukhari, 1997:1090 no. 5009, 4008)
  2. Ruqyah ketika mendatangi suatu tempat yang belum dikenal situasinya dan dikhawatirkan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. (Musnad Imam Ahmad 10:301 no. 6161)
  3. Ruqyah dengan Al-Fatihah. (Shahih Bukhari, 1997:447 no. 2276)
  4. Ruqyah dengan doa. (Shahih Ibnu Hiban, 7:632 no. 6063)
  5. Ruqyah Jibril untuk Nabi Saw. (Shahih Muslim 2;352 no. 2186)
(Risalah No.6 th 43:17-20)

Dari hadis-hadis tentang ruqyah Nabi dari para sahabatnya tersebut, apabila diperhatikan bahwa ayat-ayat yang dibaca oleh Rasulullah Saw. adalah ayat-ayat yang isinya memohon perlindungan kepada Allah swt. Pada Al-Fatihah, terdapat kata-kata Iyyaka nastain dan pada surat Al-falaq serta An-Nas lebih jelas lagi sejak ayat pertama sampai terakhir, demikian pula pada surat Al-Ikhlas terdapat kata-kata Allahush shamad. Rasulullah saw pun melakukan Ruqyah ketika  memang tidak ada cara lain selain Ruqyah Dan sekiranya inilah hal yang perlu diperhatikan oleh orang yang akan melakukan Ruqyah, membaca ayat-ayat ini dalam melakukan ruqyah tiada lain kecuali doa atau memohon kesembuhan atau perlindungan kepada Allah, bukan ayat-ayat itu sendiri yang memiliki kekuatan menyembuhkan penyakit yang sedang di derita.
Kalaulah diyakini bahwa yang mempunyai kekuatan itu adalah kalimat do'a tersebut, maka tidak ada bedanya dengan jampi-jampi atau jimat yang biasa dilakukan oleh orang musyrik. Oleh karena itu Rasulullah Saw. melarang ruqyah ketika disejajarkan dengan jampi atau jimat
  
ان الرقي و التمائم و التوالة شرك
Sesungguhnya ruqyah (jampi-jampi), jimat-jimat dan guna-guna syirik. Hr. Abu Daud, No. 2883 dan Ibnu Majah, No. 3530
Namun apabila terlepas dari ketiga hal tersebut dan mengantungkan keselamatan kepada Allah dan menggunakan ruqyah sebagai perantara maka inilah yang sesuai dengan hadits:

....لا بأس بالرقى مالم يكن فيه شرك
…tidak mengapa melakukan ruqyah selama padanya tidak terdapat syirik. Hr. Muslim, Shahih Muslim, II:358, No. 2200

Hadits yang telah diriwayatkan di atas menjadi dalil akan diperbolehkannya ruqyah dengan catatan Ruqyah tersebut tidak mengandung unsur Syirik. Dengan demikian Ruqyah yang terdapat dalam hadits tersebut adalah berlindung dan meminta kesembuhan kepada Allah swt.
Dengan memandang ruqyah itu sebagai doa-doa dan permohonan perlindungan lainnya, maka perkara di ijabah atau tidaknya ruqyah seseorang akan sangat bergantung pula kepada keikhlasan dan kesalehan raq (yang melakukan ruqyah) dan yang diruqyahnya. Karena ruqyah tauhidullah merupakan aplikasi dari sikap sabar dan tawakal.
Orang yang melakukan ruqyah atau berobat mempunyai kemungkinan sembuh atau tidak tetapi keselamatan aqidah terjaga, begitu pula ketika menggunakan jampi-jampi atau jimat, kemungkinannya sama tetapi akidah tergadaikan.
Maka bagi seorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, tentulah mendahulukan kesehatan dan keselamatan aqidah. Masalah apapun yang dihadapi tentu tidak akan mengorbankan aqidah demi kesehatan jasmaninya atau keuntungan duniawi lainnya.











B. ISTIGHOSAH
وروى الطبرني بإسناده (أنه كان في زمن النبي ص منافق يؤذي المؤمنين، وقال بعضهم : قوموا بنا نستغيث برسول الله ص من هذا المنافق، فقال النبي ص : انه لا يستغاث بي، وانما يستغاث بالله)
Ath-Thabarani dengan menyebutkan sanadnya, meriwayat kan bahwa, pernah terjadi pada zaman Nabi SAW ada seorang munafik yang selalu menggangu orang-orang mukmin, maka berkatalah salah seorang di antara mereka, "Marilah kita bersama-sama istighasah kepada Rasulullah Saw supaya dihindarkan dari tindakan buruk orang munafik ini." Ketika itu bersabdalah Nabi Saw, "Sesungguhnya tidak boleh istighasah kepadaku, tetapi istighasah itu seharusnya hanya kepada Allah saja."

Biografi sahabat
Ubadah bin ash-Shamit RA.

Mufrodat
Syaikhul islam berkata, makna istighasah adalah thalabul ghauts (meminta pertolongan) dalam rangka menghilangkan kesulitan, seperti kata Al-Istinshar yang maknanya adalah thalabun-nashar (meminta bantuan untuk dimenangkan) dan kata Al-Isti'anah yang bermakna thalabul'aun (meminta pertolongan).

Di dalam hadits tersebut terdapat petunjuk bahwa tidak bolh istighasah kepada nabi ataupun kepada yang di bawah tingkat beliau. Bahkan Nabi Saw tidak suka lafazh tersebut digunakan terhadap dirinya meskipun hal itu termasuk yang mampu beliau lakukan untuk menjaga kemurnian tauhid, sebagai tindakan preventif terhadap pintu-pintu syirik,sebagi etika dan rasa tawadhu beliau terhadap Rabbnya serta sebagai peringatan terhadap umatnya dari sarana-sarana yang dapat menyebabkan syirik, baik dalam perkataan maupun dalam perbuatan. Bilamana hal ini termasuk yang mampu beliau lakukan semasa hidup beliau (namun beliau tidak suka untuk melakukannya) tentunya bagaimana boleh beristighasah (minta tolong) kepada beliau sepeninggal beliau dan dimintakan kepada beliau hal-hal yang tidak ada yang mampu melakukannya selain Allah 'Azza wa jalla. Sebagaimana Allah berfirman di dalam Al-Quran yang salah satunya di surat Al-A'rraf ayat 188 yaitu:

قل لا أملك لنفسي نفعا ولا ضرا إلا ما شاء الله ولو كنت أعلم الغيب لاستكثرت من الخير وما مسني السوء إن أنا إلا نذير وبشير لقوم يؤمنون

Katakanlah: "Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudaratan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang gaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudaratan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman".